QISHOS
Umar merupakan pengusaha limbah, dalam artian berdagang limbah/waste dari suatu pabrik. Umar biasa mendapatkan limbah/waste dari Pabrik Jiton. Setiap akhir bulan Umar datang ke Pabrik Jiton untuk mengambil limbah. Tapi alangkah terkejutnya ketika akan mengambil limbah ternyata sudah di ambil oleh Bakar. Terbakarlah amarah Umar, sehingga timbul dendam di hatinya kepada Bakar. Satu minggu kemudian, ketika berjalan di suatu pertokoan mampirlah Umar di Coffe Shop "Ngupi" kebetulan di sana sudah ada Bakar yang sedang duduk menikmati kopi luwak pesanannya. Melihat Bakar, amarah Umar memuncak ia kemudian mengambil sebilah kayu kemudian dipukullah tangan Bakar sampai patah. Bakar meringis kesakitan, "rasain luh, makanya jangan suka ngambil jatah orang!" maki Umar kepada Bakar. Setelah puas memukul dan memaki Umar pun pergi dari tempat itu.
Tinggallah Bakar terkapar. Sendirian ia tertatih pulang, sesampainya di rumah ia mengadukan peristiwa yang baru saja dialaminya kepada Ali, bapaknya. Mendengar anak satu-satunya dianiaya oleh Umar, Ali naik pitam namun masih dapat diredam oleh Bakar. Tadinya Ali ingin melabrak Bakar ke rumahnya, namun dicegah oleh Umar, dari pada menembah gawat urusan, lebih baik lapor saja ke Qodhi, dengan kata lain diserahkan ke jalur hukum. Menurut hukum Islam, seseorang dapat menuntut balas atas sebuah kekerasan yang dialaminya berdasarkan hukum qishos. Maka melaporlah Ali ke Qodhi Adli, dia jelaskan kronologis kejadian yang telah menimpa Bakar, anaknya. Setelah menerima laporan Ali, Qodhi Adli kemudian memanggil Umar untuk meminta penjelasan atas laporan Ali. Diinterogasi-lah Umar oleh Qodhi Adli.
"Saudara Umar, menurut laporan Bapak Ali, saudara telah memukul anaknya yang bernama Bakar dengan sebilah kayu sehingga menyebabkan tangan kanannya patah, benar begitu ?" kata Qodhi Adli.
"Benar Tuan Qodhi, jika ditanya apakah saya memukul Umar atau tidak, jawabannya adalah benar Tuan Qodhi. (Berhubung Umar pernah mengaji bahkan sempat mencicipi tidur di kobong selama 3 tahun dia mengetahui kaidah qishos, yaitu tidak akan dikenai hukuman apabila (sebagai contoh) memukul di bagian tubuh yang cacat. Umar mendapatkan info bahwa tangan sebelah kanan Bakar mengalami cacat akibat penyakit stroke dari Ahmad Muhamad) tapi saya khan memukul tangan sebelah kanan yang memang cacat akibat stoke Tuan Qodhi." jawab Umar
"Kamu mengetahui bahwa tangan sebelah kanan Umar cacat karena stroke dari mana ?" tanya Qodhi Adli
"Begini Tuan Qodhi, saya diberitahu oleh teman saya, Ahmad Muhamad kalau tangan sebelah kanan Umar menjadi cacat karena lama menderita stroke." ujar Umar
"Interupsi Tuan Qodhi, saya sangat tersinggung dan keberatan atas pernyataan Umar, saya sebagai orangtuanya tahu persis bahwa Bakar itu sehat wal afiat. Bahkan semenjak berkecimpung di dunia perlimbahan badan anak saya terlihat lebih gemuk dari biasanya. Jadi alibi Umar hanyalah rekayasa belaka untuk menghindari hukuman qishos Tuan Qodhi." sahut Ali dengan nada emosi
"Baiklah kalau begitu, jika tidak dihadirkan Ahmad Muhamad di persidangan ini kalian pasti akan bertengkar dan masing-masing pasti ingin memenangkan argumennya. Baiklah sidang ditunda hingga minggu depan untuk menghadirkan Ahmad Muhamad."pungkas Qodhi Adli.
Singkat cerita Ahmad Muhamad pun dihadirkan di persidangan. Dia dikonfrontir dengan Umar atas pernyataannya kepada Umar bahwa tangan sebelah kanan Bakar mengalami cacat akibat stroke. Ahmad Muhamad menjelaskan kepada Qodhi Adli bahwa dia hanya bermaksud bercanda ketika menyampaikan pernyataan tersebut kepada Umar. Akhirnya karena tidak terbukti bahwa tangan kanan Bakar cacat karena stroke, Qodhi memutuskan bahwa Umar harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Bakar
dengan hukum Qishos, yaitu dibalas dengan setimpal sesuai dengan perbuatannya terhadap Bakar.
Wallahu A'lam Bisshowaab
Kamis, 31 Januari 2013
Ziarah #1 @2013,13,Januari
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 02.14 0 komentar
Rabu, 30 Mei 2012
MANADO (Day 1)
Kami berangkat dari dari Tangerang bertiga. Dengan menumpang L*** Air, setelah menunggu kurang lebih satu jam, pada pukul 7.55 WIB pesawat yang membawa kami pun take off. Di dalam penerbangan yang memakan waktu lebih kurang tiga jam kami cukup menikmati penerbangan transit di Bandara Hasanudin - Makasar. Menempati seat di sayap kanan pesawat dekat pintu darurat, flight attendance menjelaskan kewajiban kami membantu mereka apabila terjadi keadaan darurat, salah satunya adalah membuka pintu darurat yang berada di sebelah kanan kami. Bedanya terbang bersama G***da dengan Singa Udara adalah tidak adanya snack gratis selama tiga jam penerbangan, tetapi snack dijual terpisah.
Bandara Hasanudin - Makassar
Sekitar pukul sebelah WITA kami tiba di Bandara Hassanudin, awak kabin pesawat memberitahukan kepada para penumpang bahwa ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Makassar, yaitu selisih satu jam. Sebagai penumpang transit kami diharuskan untuk 'mendaftar ulang' kepada petugas. Menunggu waktu, kami memesan kopi dan makanan di Kedai Kopi. Salah satu rekan kami, bertemu dengan kawan lamanya di Bandara Soekarno Hatta, dengan tujuan perjalanan yang sama dan kebetulan di pesawat yang sama. Mengalirlah obrolan diantara kawan lama yang baru bertemu kembali.
Sam Ratulangi - Manado
Puas menikmati kopi dan 'sohib'nya, terdengar pengumuman dari petugas bandara, bahwa pesawat menuju Manado akan segera berangkat, penumpang di harapkan segera menuju pesawat. Dengan segera kami menuju ke sana. Pada penerbangan lanjutan dengan pesawat yang sama dari Soekarno - Hatta, kami ditempatkan di row paling belakang di sebelah kiri. Rekan kami yang pada penerbangan menuju Makassar mendapat seat yang cukup nyaman, kali ini cukup tersiksa. Bertubuh agak tambun, dia kesulitan untuk duduk secara nyaman, bahkan sebelumnya sempat bersitegang dengan penumpang lain karena duduk tidak di tempat yang seharusnya. Satu jam perjalanan di tempuh di langit pulau Sulawesi. Menembus awan berarak, terasa diri ini sangat kecil dibandingkan dengan kekuasaan-Nya, sempat deg degan juga ketika pesawat melewati awan karena mengalami turbulance, pesawat seperti bergoyang, walaupun tidak begitu keras, tetapi sempat membuat ciut nyali ditambah lagi deru mesin pesawat yang sangat jelas terdengar persis di belakang kami. Akhirnya kami mendarat dengan selamat di Sam Ratulangi.
Hotel Arya Duta
Menginjakkan kaki di bumi Kawanua, mendung menggelayut di langit kota Manado, walaupun ketika masih di dalam pesawat, tidak terlihat awan hitam. Cuaca cukup dingin ketika kami memasuki bandara. Memakan waktu 20 menit, kami kecewa dengan penanganan bagasi di Bandara Sam Ratulangi, kunci travel bag salah seorang rekan kami pecah sehingga ia kesulitan untuk membuka travel bag nya. Menuju Arya Duta, hotel tempat kami menginap 5 hari ke depan, kami menyetop taksi bandara. Wangi dan full musik, itulah kesan pertama kami ketika memasuki taksi, ditemani musik lokal Manado, sang pengemudi menjelaskan keadaan kota Manado. Sampailah kami di Arya Duta, kami belum bisa masuk kamar hotel untuk beristirahat melepas lelah, dikarenakan rekan kami dari Bagian Pemerintahan tidak ada di hotel, begitu sampai kota Manado dia tidak langsung check in dulu tetapi mereka memilih untuk berkeliling kota mencari makanan. Suasana hujan menambah kekesalan kami menunggu mereka di beranda hotel. Akhirnya setelah berkoordinasi dengan pihak hotel, kami pun dipersilakan naik ke lantai 7 untuk menempati kamar yang telah kami booking.
Manado Boulevard
Setelah beristirahat sejenak, kami bertiga memutuskan untuk mengisi perut yang sudah dari tadi keroncongan. Walaupun hujan masih turun rintik-rintik, tidak menyurutkan langkah kami ke restoran cepat saji di tepi pantai, bersebelahan dengan lokasi pameran dimana kami akan bertugas selama 5 hari. Memesan tiga porsi paket menu ayam kami mendapatkan bonus satu paket, kami makan dengan lahapnya. Ditemani sepoi-sepoi angin pantai dan canda tawa ABG kota Manado yang sedang hang out dengan teman sebayanya, kami menikmati sore hari di bumi Kawanua. Selepas itu kami menuju Lapangan Mega Mas, venue dari City Expo 2012 untuk melaksanakan tugas negara, terutama mengecek tempat dimana kami akan menaruh perlengkapan yang kami bawa dari Tangerang.
Soto Lamongan @ Manado
Air hangat mengalir melemaskan otot-otot kami yang lelah dengan perjalanan 5 jam dari Tangerang ke Manado. Jam menunjukan pukul 19.30 WITA saatnya jalan-jalan malam sambil mencari makanan. Ternyata Manado tidak seramai yang kami bayangkan. Kami hanya mengitari boulevard yang menjadi landmark Kota Manado selebihnya belum ada yang istimewa dari kota ini. Perut kami sudah minta diisi kembali, sedangkan kami kesulitan menemukan menu yang tepat, akhirnya warung sate Lamongan menjadi pilihan. Lelah berjalan-jalan kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat.
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 19.02 0 komentar
Rabu, 15 Februari 2012
DURIAN : KING OF FRUIT
Sumber :
wikipedia.org
http://penyuluhthl.wordpress.com
Dari berbagai macam/jenis buah-buahan, durian adalah buah yang kontroversial. Di satu sisi dia banyak digemari, di sisi lain banyak juga orang yang mencium baunya pun merasa mual.
Durian banyak tumbuh di Asia Tenggara mempunyai nama latin Durio Zubethinus. Berdasarkan topografi/lokasi, durian ada beberapa jenis, diantaranya : durian parung, durian lampung, durian jepara, durian palembang, dan durian padang.
Selain dimakan langsung daging buahnya, durian dapat juga diolah menjadi beragam jenis makanan, yaitu :
1. Tepung Durian, cara membuatnya : kupas durian dan keluarkan daging buahnya kemudian tempatkan durian pada wadah anti lengket lalu dikeringkan pada oven, atau jika tidak ada oven bisa dijemur langsung dengan sinar matahari, setelah itu daging buah durian yang telah kering digiling sampai halus kemudian diayak setelah itu kemas dengan kantong plastik.
2. Jelly Durian, cara membuatnya : kupas durian kemudian ambil isinya sebanyak 200 gram lalu blender sampai halus. Aduk 500 gram gula pasir dengan 25 gram tepung jeli dan 5 gram garam. Campurkan semua bahan dan masak dengan 2,5 liter air bersih sampai mendidih (selama memasak, lakukan pengadukan). Setelah masak bahan dikemas dengan menggunakan kantong plastik atau cup plastik. Lakukan pasteurisasi degan cara merebus cup palstik dengan suhu 80 derajat celcius selama 10 menit.
3. Lempok Durian, cara membuatnya : kupas durian dan ambil daging buahnya (2 kg) kemudian masukkan ke dalam kuali bersama dengan santan kental (dari 1 buah kelapa), gula pasir (400 gram), gula merah (100 gram), vanili (5 gram), dan daun pandan sebanyak 2 lembar. Masak dengan api sedang kemudian terus diaduk, selama diaduk masukkan tepung maizena sebanyak 50 gram. Masak hingga bahan tidak lagi lengket pada kuali. Setelah selesai pemasakan adonin didinginkan kemudian dicetak sesuai dengan keinginan.
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 20.09 0 komentar
Kamis, 09 Februari 2012
FOLLOW
sleep away the dream, my dream
everything will flow and glow
whispering into the night, hesitate under the light
nothing lost nothing gain, love is just lullaby
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 20.08 0 komentar
Selasa, 31 Januari 2012
PUTRA SANG FAJAR DAN PARA ULAMA
Berikut ini adalah kisah dan cerita tentang hubunngan antara founding father of Indonesia, Soekarno dengan para ulama, dimana beliau dalam perjalanan hidupnya selalu terkait erat dengan para ulama, terlepas dari segala kontroversi dan image negatif yang sengaja disebarkan untuk menjelek-jelekan namanya, Soekarno tetap berkesan di mata para ulama, karena beliau-lah Presiden RI yang selalu meminta petuah para ulama ketika akan memutuskan suatu masalah. Berikut ini kisah-kisahnya.
Sukarno dan mati senyum
Pencarian Bung Karno dan mati tersenyum
(Dialog Bung Karno dengan ulama sufi Syekh Kadirun Yahya)
Suatu hari, pada sekitar bulan Juli 1965, Bung Karno berdialog dengan Kadirun Yahya, anggota dewan kurator seksi ilmiah Universitas Sumatra Utara (USU).
Bung Karno (BK): Saya bertanya-tanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tapi semua jawaban tidak ada yang memuaskan saya, en jij bent ulama, tegelijk intellectueel van de exacta en metaphysica-man.
Kadirun Yahya (KY): Apa soalnya Bapak Presiden?
BK: Saya bertanya lebih dahulu tentang hal lain, sebelum saya memajukan pertanyaan yang sebenarnya. Manakah yang lebih tinggi, presidentschap atau generaalschap atau professorschap dibandingkan dengan surga-schap?
KY: Surga-schap. Untuk menjadi presiden, atau profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada nusa dan bangsa, atau ilmu pengetahuan, sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya berpuluh-puluh tahun, bahkan menurut Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup baru dapat masuk nirwana.
BK: Accord, Nu heb ik je te pakken Proffesor (sekarang baru dapat kutangkap Engkau, Profesor.) Sebelum saya ajukan pertanyaan pokok, saya cerita sedikit: Saya telah banyak melihat teman-teman saya matinya jelek karena banyak dosanya, saya pun banyak dosanya dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Quran dan hadist. Bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan dan mati senyum; dan saya ketemu satu hadist yang bagi saya sangat berharga.
Bunyinya kira-kira begini: Seorang wanita pelacur penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil segayung air dan memberi anjing yang kehausan itu minum. Rasulullah lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, terhapus dosa wanita itu di dunia dan akhirat dan ia ahli surga!!! Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh tahun itu pun barangkali. Sekarang seorang wanita yang banyak berdosa hanya dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor? Waar zit‘t geheim?
Kadirun Yahya hening sejenak lalu berdiri meminta kertas.
KY: Presiden, U zei, dat U in 10 jaren’t antwoor neit hebt kunnen vinden, laten we zein (Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, mari kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit, saya dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Bung karno adalah seorang insinyur dan Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika, jadi bahasa mereka sama: eksakta.
KY menulis dikertas:10/10 = 1.
BK menjawab: Ya.
KY: 10/100 = 1/10.
BK: Ya.
KY: 10/1000 = 1/100.
BK: Ya.
KY: 10/bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: 1000000/ bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: Berapa saja ditambah apa saja dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.
BK: Ya.
KY: Dosa dibagi sesuatu tak berhingga sama dengan 0.
BK: Ya.
KY: Nah…, 1 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1/2 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1 zarah x bilangan tak berhingga = tak berhingga. Perlu diingat bahwa Allah adalah Mahatakberhingga. Sehingga, sang wanita walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun, mengkaitkan, menggandengkan gerakkannya dengan Yang Mahaakbar, mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakkannya, maka hasil dari gerakkannya itu menghasikan ibadat paling besar, yang langsung dihadapkan pada dosanya yang banyak, maka pada saat itu pula dosanya hancur berkeping keping. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: (1 zarah x tak berhingga)/dosa = tak berhingga.
BK diam sejenak lalu bertanya: Bagaimana ia dapat hubungan dengan Sang Tuhan?
KY: Dengan mendapatkan frekuensinya. Tanpa mendapatkan frekuensinya tidak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio kita dengan frekuensi yang tidak sama, radio kita tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga, walaupun Tuhan dikabarkan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tidak mungkin kontak jika frekuensinya tidak sama.
BK berdiri dan berucap: Professor, you are marvelous, you are wonderful, enourmous. Kemudian dia merangkul KY dan berkata: Profesor, doakan saya supaya saya dapat mati dengan senyum di belakang hari.
Beberapa tahun kemudian, Bung karno meninggal dunia. Resensi-resensi harian-harian dan majalah-majalah ibukota yang mengkover kepergian beliau, selalu memberitakan bahwa beliau dalam keadaan senyum ketika menutup mata untuk selama-lamanya.
Catatan:
Nama lengkap yang berdialong dengan Bung Karno adalah Prof. Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, Msc, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Uraian tentang riwayat beliau pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/syekh-kadirun-yahya/
sumber : mutiarazuhud.wordpress.com
Seri Akhlaq Orang NU – BUNG KARNO DAN FATHUL QORIB
Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan masalah Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno menghubungi KH Wahab Hasbullah (Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama) di Jombang. Bung Karno menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat.
“Apa artinya ghoshob, Kiai?” Tanya Bung Karno.
“Ghoshob itu istihqaqu malil ghair bi ghairi idznihi; menguasai hak milik orang lain tanpa ijin,” terang Kiai Wahab.
“Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yang ghoshob?” Tanya Bung Karno lagi.
“Adakan perdamaian,” tegas Kiai Wahab.
Lalu Bung Karno bertanya lagi, “Menurut insting Kiai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?”
“Tidak,” jawab Kiai Wahab.
“Lalu, kenapa kita tidak potong kompas saja, Kiai?” Tanya Bung Karno sedikit memancing.
“Tak boleh potong kompas dalam syari’ah.” Kata Kiai Wahab.
Selanjutnya, Bung Karno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Perundingan ini akhirnya gagal. Kegagalan ini disampaikan Bung Karno kepada Kiai Wahab.
“Kiai, apa solusi selanjutnya menyelesaikan masalah Irian Barat?”
“Akhodzahu Qohron! Ambil, kuasai dengan paksa!” jawab Kiai Wahab tegas.
“Sebenarnya, apa rujukan Kiai untuk memutuskan masalah ini?”
“Saya mengambil literatur kitab Fathul Qorib dan syarahnya (Al-Bayjuri).”
Setelah itu, barulah Bung Karno membentuk barisan Trikora (Tiga Komando Rakyat) untuk diberangkatkan merebut Irian Barat.
Kita bisa membayangkan, jika Fathul Qorib dan Al-Bayjuri yang notabene merupakan kitab fikih dasar di pesantren dan madrasah diniyyah, bisa dikontekstualisasikan untuk menyelesaikan masalah internasional seperti kasus Irian Barat, bagaimana dengan kitab-kitab lain yang level pembahasannya lebih tinggi, kompleks dan mendalam?
OOOOOOOOO
Saya jadi teringat, pernah suatu hari, di sudut masjid kota Jakarta, saya berbincang dengan seseorang yang sudah berhasil menghapal separuh kitab suci Al-Quran dengan otodidak. Subhanallah. Luar biasa.
Beliau mengatakan,
“Dulu, ketika saya masih kecil di kampung, tiap sore saya masuk madrasah, mempelajari kitab kuning. Namun kini, saya sadar, semua itu sungguh membuang waktu, kenapa tidak langsung kita mengkaji Al-Quran dan Hadits? Bukankah sumber hukum kita adalah Al-Quran dan Hadits? Mengapa harus memakai sumber hukum dari kitab kuning itu?”
Saya hanya manggut-manggut mendengarkannya dan hanya mampu bergumam dalam hati,
“Kalau panjenengan mau memahami kajian-kajian dalam kitab-kitab kuning itu dengan baik, dan mau melanjutkan ke jenjang kitab yang lebih dalam pembahasannya, saya yakin, penjenengan akan sadar bahwa merujuk kitab kuning pada esensinya juga merujuk kepada al-Quran dan Hadits. Sebab, kitab kuning adalah pengejawantahan konsep-konsep dari dalam Al-Quran dan Hadits Rasulillah yang digali lantas dituangkan oleh Ulama Salaf yang mengarang kitab itu.
Nah, kenapa kitab-kitab aqidah maupun fiqh yang dasar seperti Aqidatul ‘Awwam, Jawahirul Kalamiyyah, Safinatun Najah, Sullamut Taufiq, maupun kitab adab dasar seperti Bidayatul Hidayah terlihat sangat tipis tanpa ada dalil lengkap dari ayat Al-Quran dan Hadits Nabi di dalamnya? Ya supaya memudahkan kita-kita ini yang pemula. Lha kalo panjenengan mau lanjutin ke kitab yang lebih lengkap dan mencantumkan dasar pengambilan hukumnya… Ya musti lewatin dulu kitab-kitab dasar itu… dan musti punya guru yang membimbing.”
Haaaah, namun argumentasi saya itu hanya tersuarakan dalam dada. Karena saya tahu betul, lawan bicara saya ini mengatakan hal itu bukan untuk ‘menggali kebenaran’ secara ilmiah, tetapi hanya untuk sekedar menumpahkan unek-uneknya.
Dan saya juga khawatir, kalau saya kebanyakan ngomong tentang agama, apalagi tentang kitab-kitab fiqh salaf lengkap dengan keluasan ilmu para mujtahid terdahulu, nanti malah beliau bertanya,
“Memangnya kamu sudah hapal berapa juz dari Al-Quran?”
Pasti saya hanya bisa tersipu malu :”)
sumber : ngopibarengsantri.wordpress.com
Ber-Nuzulul Qur’an Bersama Bung Karno
Bagian kedua dari dua tulisan
Oleh Faiz Manshur
Terlepas dari faktor-faktor politik, Al-Qur’an bagi seorang Soekarno adalah kitab suci yang sakral. Apakah bagi seorang yang menyakralkan sesuatu (Al-Qur’an) seperti Bung Karno lantas menjadi seorang Muslim yang dogmatis?
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 19.42 0 komentar
Minggu, 29 Januari 2012
3 Manusia Istimewa Indonesia : Kyai Hasyim-Soekarno-Hatta
From: zaky akhmad <dzaky_a@...>
To: TL_UII@yahoogroups.com
Sent: Sunday, December 31, 2006 4:28:41 PM
Subject: [TL_UII] Renungan akhir tahun feat: Soekarno, Hatta, dan Kyai hasyim
Kemarin sore saya sowan ke tiga tokoh nasional yang Semoga Tuhan Mengasihi ke tiganya, atas kesalehan yang mereka amalkan. Saya bertemu ketiganya di hotel Soekarno Foundings Father of Indonesia 1901-1945 yang di bangun Bob Hearing tahun 2003, ditemani lagu OST nya berbagi suami VS kroncong pasar barunya Chrisye ketiganya dengan ramah berbicara kepada saya.
Secangkir teh hangat..mengiringi saya masuk kedalam pembicaraan yang santai (walaupun hati kecil saya ciut karena saya bukan apa2 dibanding mereka, atas kontribusi yang mereka berikan pada pada bangsa ini). Tema pembicaraan yang diangkat kemarin adalah masa muda, mungkin ketiganya tahu kalo saya yang mereka ajak bicara masih tergolong anak muda dan masih mencari format kedewasaan. (untuk masalah yang satu ini, baca:dewasa, saya kesulitan untuk tahu parameter dewasa itu, mungkin selain Pa' Eko Siswoyo yang kemarin nyumbang tulisan, ada lagi penulis lain yang bisa bantu saya heheheeh yang ahli dalm masalah DEWASA), dari ketiganya saya cuma dapetin kesimpulan kalimat beyond himself, melampaui dirinya sendiri di masa mudanya, (pie mas nikko bner ga' artinya? Wkwkakakka)
Pak Karno cerita waktu dia muda dan baru lulus dari THS Bandung (ITB sekarang) ga' seperti temannya-, teman saya sekarang, yang dengan segera ketika lulus mengirimkan puluhan berkas lamaran, atau nongkrong di internet berjam2 bwt ngirim aplikasi mulai dari perusahaan-perusaha an besar sampai PNS.
Pak Karno muda yang tampan dan cerdas sama sekali ga' tergiur masuk untuk menjadi ambtenaar yang mengabdi pada Kolonial Belanda. Ia malah mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), berjuang memerdekakan negerinya dari belenggu kolonialisme.
Pak Karno juga bilang waktu itu teman-teman seangkatanya juga ga' jauh beda dengan anak gaul jaman sekarang, cuma kalo dulu bermimpi pakai baju safari sekarang baju safari juga, tapi buatan Dolce e Gabbana, Giorgio Armani, atau minimal OUVAL Research-bandunglah (wkakakaka pie kang meidy ???, menjadi pegawai negeri, ambtenaar, yang mengharapkan pensiun dan status sosial di masyarakat.
Perguruan tinggi favorit pada masa itu bukanlah THS di Bandung, ataupun STOVIA (sekolah kedokteran) di Jakarta, melainkan OSVIA (sekolah pamong praja, kini STPDN atau IPDN). Para orang tua mereka yang umumnya priyayi feodal sangat mengharapkan anak-anak mereka dapat meneruskan karier ambtenaar di pemerintahan kolonial. Para priyayi takut anak-anaknya tidak akan dapat hidup layak bila tidak menjadi ambtenaar. Tidak ada ide-ide kemerdekaan di benak mereka, yang ada hanyalah slogan muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga (jadi inget warkop DKI hehe...) Basic Instinc dari spesies Homo Sapiens (Baca: Manusia!) memanglah hidup layak, punya rumah pribadi, mobil pribadi de el el lah.
Pak Hatta juga mengalami hal yang serupa, beberapa kali masuk bui (yang semua orang pada umumnya pasti ga' mau seperti ini) demi tidak menginginkan bangsanya ada dalam belenggu penindasan, kebodohan maupun ekonomi.Soekarno muda, Hatta muda keluar masuk penjara. Dibuang dan diasingkan oleh Belanda. Namun demikian, Belanda tidak dapat “memenjarakan” ide-ide kemerdekaan Soekarno dan Hatta. Bagaikan bola salju, jutaan anak muda Indonesia bersatu di bawah kepemimpinan Soekarno dan Hatta di tahun 1945 yang saat itu berusia 40-an tahun. Belanda tumbang. Di awal kemerdekaannya, Republik Indonesia adalah republiknya anak-anak muda yang tidak segan-segan melakukan revolusi sosial untuk mengikis habis sisa-sisa ambtenaar Belanda. Di “Tiga Daerah”, Brebes, Tegal dan Pemalang. Laskar-laskar, badan perjuangan dan tokoh-tokoh muda menggulingkan para priyayi tua yang tidak mau berpihak pada Republik.
Kemudian Hadratussyaikh Kyai Hasyim Asy'ari, dengan wajah tenangnya beliau yang diwaktu muda terpanggil untuk berbuat mengenalkan Tuhan kepada masyarakat di sekitarnya, dengan menebas hutan, mendirikan pesantren dan membina ummat di sekitarnya, terus mewejangi saya mengutip terus kalimat RasululLah Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain (HR. Bukhari). Mengantarkan saya pada kesimpulan konsep kesalehan sosial dari ketiga tokoh ini.
Saya cuma berpikir mungkin ini yang bisa buat tiga tokoh ini begitu besar dilihat dari karya yang dihasilkan untuk manusia Ketiga tokoh ini berbicara kepada saya mungkin karena saya salah satu figur anak muda yang sama pada umumnya dengan anak muda lainnya, cinta kemewahan, kemapanan, pujian, egois, sedikit kerja, ga' kreatif,tapi mau hasil yang banyak, ga' peduli orang lain susah (indonesia bgt lah....!)
Kembali ke renungan akhir tahun..., yang namanya renungan atau evaluasi, saya sikapi sehabis sowan dengan ke tiga tokoh tersebut.., saya larikan kepada INTERN diri saya pribadi.., saya belum punya cukup kapabilitas untuk Mengevaluasi orang lain.., mungkin kalo saya sudah selevelan dengan Gunawan Muhammad, atau Cak Nun yang memang sudah terbukti istiqamahnya secara sikap, atau paling dekat se levelan dengan Pak Eko Siswoyo salah satu dosen yang saya kagumi yang begitu dewasa mengangkat konsep Long Life Learning, dan dengan sangat-sangat PROFESIONAL melakukan PENYEKATAN pada konsep Long Life Learning, sudah barang tentu saya akan mengevaluasi anda-anda semua...(hehehe)
Bicara learning saya jd ingat Nabi Socrates (400 SM) menekankan tujuan pendidikan pada prinsip-prinsip universal dalam pengajarannya melalui kebenaran, keindahan, dan kebaikan secara umum. Menurut saya ini lah muara dari proses belajar, semuanya bersifat Non Materil, abstrak, (atau istilah kawan-kawan saya Tj's alias Tak jelas angel nek gole'i heheheh), Sulit memang melihat ini, karena sayapun masih melihat dalam dataran materil sebagaimana orang-orang muda sezaman dengan saya, yang menganggap parameter kesuksesan seseorang dalam jenjang pendidikan adalah bagaimana dia bisa cepat dapat bekerja di perusahaan besar dengan gaji menggiurkan, dan tiap malam bisa ke klub-klub malam yang mengukuh kan eksistensi sebagai eksekutif muda.(Padahal kalo mo serius mikir toh mereka di kantor diperintah-perintah juga, apa bedanya dengan sayuti di OB...hehehe) .
(semua tulisan adalah pendapat pribadi bukan atas nama golongan atau organisasi, profesional nih...!!!, kayanya profesionalitas lg jd momok buat dosen sama mahasiswa... heheheh, oia maaf kalau ada kesalahan kalau tiga paragraf pertama tidak mrnggunakan bahasa asing sebagaimana forum-forum yang ada di JTL UII yang saya banggakan... heheheh pie toh nggunn.., ra usah ngancani aku toh...! wkakakakakakaakakak aka)
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 03.37 0 komentar
Jumat, 20 Januari 2012
Ya Allah, Ya Robbi
A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can't help but wish that I was there
Back where I'd love to be, oh yeah
Ya Allah, Ya Malik : the only thing yo yeah
I ask of you is
to hold her when I'm not around
when I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left her when I found her
And now I wish I'd stayed
'Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again
There's nothing here for me on this barren road
There's no one here while the city sleeps
and all the shops are closed
Can't help but think of the times I've had with you
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah
Dear God the only thing I ask of you is
to hold her when I'm not around
when I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I'd stayed
'Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again
Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish ways
And how I miss someone to hold
when hope begins to fade...
A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose hard to find
Ya Allah, Ya Rahman : the only thing I ask of you is
to hold her when I'm not around
when I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I'd stayed
'Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 00.51 0 komentar
Sabtu, 30 April 2011
MIMPI
Sebongkah mimpi memang harus dikejar
Sebongkah mimpi memang merupakan sebuah motivasi untuk maju
Namun sebongkah mimpi yang belum terwujud bukanlah menjadi satu halangan.
Kejar dan raih mimpi
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 00.37 0 komentar
Rabu, 16 Februari 2011
Karomah Tuan Syekh Abdul Qodir Al Jailani Qoddasallahu Sirrohul Aziz II
Di jaman Tuan Syekh, ada seorang yang berasal dari negeri Mesir meragukan pangkat kewalian beliau.
Tapi karena penasaran, orang itu pergi menemui Tuan Syekh di Madrasah tempat beliau mengajar. Ketika sampai di suatu gang orang itu berpapasan dengan Tuan Syekh, karena belum pernah ketemu dengan beliau dan tidak mengetahui bagaimana rupa Tuan Syekh, orang itu pun menanyakan kepada beliau, dimana rumah Abdul Qodir (karena saking tidak percayanya dengan pangkat kewalian Tuan Syekh orang itu hanya menyebut nama beliau tanpa gelar apapun). Tuan Syekh menjawab bahwa ia sendiri yang dia cari.Karena kebetulan saat itu hari Jum'at, Tuan Syekh pun mengajak orang itu untuk shalat Jum'at dan kebetulan pula yang menjadi khotib Tuan Syekh itu sendiri. Masuklah orang itu ke mesjid. Bertepatan dengan saat Tuan Syekh naik ke mimbar untuk memulai khotbah, orang Mesir tersebut ingin buang air yang sangat tidak tertahankan. Saking tidak tertahankannya sampai-sampai orang itu berikrar bahwa jika Tuan Syekh Abdul Qodir adalah benar seorang wali maka tentu beliau dapat menyembuhkan mulas perut yang ia derita, karena mulas perutnya sudah sangat tidak tertahankan kalau tidak ada pertolongan maka orang Mesir tersebut bisa-bisa buang air besar di dalam mesjid (ia duduk di shaf paling depan, sehingga kesulitan untuk keluar dari shaf untuk buang air besar di luar).
Dengan ijin Allah SWT, Tuan Syekh dapat melihat kesulitan dari orang Mesir tersebut, ia pun ditolong oleh beliau. Setelah berikrar dalam hati sebagaimana tersebut diatas, orang itupun tertidur, di dalam mimpinya ia berada di WC yang nyaman dan ia-pun leluasa membuang hajat bahkan ia sempat mandi di WC tersebut. Begitu selesai mandi, ia pun terbangun. ia pun kaget ketika ia memegang rambutnya yang masih ada tersisa air tanda ia baru saja mandi. Ia pun takjub dengan keanehan yang baru saja dialami, karena tidak mungkin ia keluar dan buang air di WC apalagi sampai sempat mandi. Ia pun menunggu selesai shalat Jum'at, kemudian ia menemui Tuan Syekh untuk menceritakan kejadian aneh dan luar biasa yang baru saja dialaminya. Tuan Syekh pun lalu mengajak orang itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah Tuan Syekh ia pun menanyakan dimana lokasi WC tempat ia membuang hajat dan mandi tersebut (ia menanyakan hal tersebut karena ketika ia mandi dan menggantungkan pakaiannya, ia juga menggantungkan kunci rumah dan tokonya tertinggal di WC tersebut). Tuan Syekh dengan tenang menjawab bahwa silakan ia ke bagian belakang rumahnya. Benar saja ketika orang tersebut ke belakang rumah Tuan Syekh ia pun menemukan WC yang sama dengan yang ada di mimpinya tadi, ia pun masuk ke dalamnya untuk mengambil kunci-kunci miliknya yang tertinggal. Kemudian ia kembali menemui Tuan Syekh dan dengan penuh takjub ia pun mengajak Tuan Syekh untuk ke WC dimaksud, tapi anehnya WC tersebut menghilang tanpa bekas. Orang itu-pun makin yakin dengan kewalian Tuan Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Setelah kejadian tersebut ia pun kembali ke Mesir dan ia pula yang paling getol menyiarkan bahwa Tuan Syekh adalah seorang wali.
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 19.42 2 komentar
Selasa, 15 Februari 2011
Karomah Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani
Berikut ini merupakan salah satu karomah yang pernah saya dengar dari Guru :
Orang yang tercatat atau diakui sebagai murid Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani (selanjutnya disebut Tuan Syekh) adalah "di bawah tanggungan" Tuan Syekh. Kalau sudah "di bawah tanggungan" Tuan Syekh adalah jaminan keselamatan dunia dan akhirat.
Tersebutlah di suatu jaman setelah wafatnya Tuan Syekh, ada seorang yang beragama majusi (penyembah api) tetapi anehnya setiap Peringatan Haul (hari kematian) Tuan Syekh, ia selalu ikut berpartisipasi dengan cara menghias rumahnya serta mengundang warga sekitar rumahnya untuk di jamu, singkatnya ia cinta dan hormat kepada Tuan Syekh.
Tidak berapa lama orang majusi tersebut meninggal. Sebagaimana biasanya orang majusi, jika meninggal jasadnya di bakar. Terjadi keanehan ketika jasad orang tersebut dibakar ternyata tidak hangus dimakan api tapi tetap utuh. Orang-orang yang mengadakan upacara pembakaran mayat-pun menjadi bingung mau diapakan mayatnya. Setelah berembug akhirnya disepakati mayatnya dibuang saja ke sungai. Mereka-pun pulang ke rumah masing-masing sambil tetap membawa kebingungan tentang keanehan yang terjadi terhadap diri orang tersebut.
Pada malam setelah kejadian tersebut, ada seorang ulama yang bermimpi didatangi oleh Tuan Syekh, beliau berkata bahwa ada seorang muridnya yang dibuang ke sungai, Beliau minta kepada ulama tersebut untuk mencari dan menguburkannya secara layak. Ulama tersebut kaget, seingat dia, jasad yang dibuang ke sungai tadi siang adalah orang yang beragama majusi tetapi kenapa Tuan Syekh mengakuinya sebagai murid. Tuan Syekh menjelaskan kepada ulama tersebut bahwa kenapa orang majusi itu dicatat sebagai muridnya adalah dikarenakan semasa hidupnya orang itu cinta terhadap Tuan Syekh, hal itu dibuktikan dengan setiap Perayaan Haul, orang tersebut ikut merayakannya, selain itu ketika menjelang sakaratul mautnya ia menyebut-nyebut nama Tuan Syekh, maka tercatatlah ia sebagai murid Tuan Syekh Abdul Qodir.
Keesokan harinya, ulama tersebut melaksanakan perintah Tuan Syekh untuk mencari jasad orang majusi tersebut, lalu kemudian dikuburkan secara layak.
Demikian kisah pecinta Tuan Syekh, walaupun ia beragama majusi, tetapi karena percaya dan cintanya yang tulus kepada Tuan Syekh orang tersebut diaku murid oleh Beliau. Sedangkan Allah SWT telah memberikan buku catatan yang panjangnya sejauh mata memandang kepada Tuan Syekh untuk mencatat orang-orang yang menjadi murid beliau untuk dapat diselamatkan oleh Tuan Syekh di dunia dan akhirat kelak.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah diatas adalah orang majusi saja diaku menjadi murid Beliau, apa lagi kita, orang muslim yang di dalam dada tersimpan Lafadz La Ilaaha Illallah. Maka Cintailah Nabi Muhammad SAW dan Al Muhyiddin Tuan Syekh Abdul Qodir Al Jailani Qoddasallahu Sirrohul Aziz Al Ghautsul A'adzom.
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 19.33 0 komentar
Jumat, 03 September 2010
LAKSA, Si Kuah Kuning
![]() |
| Laksa yang umum ada di Indonesia |
Laksa adalah mie yang berkuah gurih dan pedas, yang merupakan warisan kuliner budaya Peranakan, yang merupakan campuran dari unsur China dan Melayu yang banyak ditemui di Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Asal-usul nama "laksa" tidak begitu jelas. Ada tiga teori :
[1] berasal dari bahasa Hindi = lakhshah, merujuk pada jenis sohun.
[2] Kata "laksa" berasal dari kata China "sha la" (辣 沙; diucapkan "latsa" dalam bahasa Kantonis), yang berarti "pasir gurih" dikarenakan udang air tawar memberikan tekstur berpasir untuk sausnya.
[3] Teori terkini adalah bahwa nama itu berasal dari kata bahasa Hokkien yang berarti "kotor" dikarenakan penampilannya.
Tipe-Tipe Laksa
Ada dua tipe laksa yaitu : Laksa Kari dan Laksa Asam.
Laksa Kari adalah laksa yang berkuah santan yang dicampur dengan mie, sedangkan Laksa Asam adalah laksa dengan kuah ikan yang asam dicampur dengan mie. Mie yang tebal dari beras juga dikenal sebagai Laksa Mie sering kali digunakan sebagai campuran dari kuah Laksa, walaupun bihun/mihun juga biasa digunakan sebagai bahan campuran laksa.
Laksa Kari (di berbagai tempat seringkali disebut secara singkat “laksa”) adalah sup yang berkuah dengan bahan dasar santan kelapa. Bahan utama dari berbagai macam versi dari Laksa Kari, termasuk tahu, potongan daging ikan, udang and kerang. Beberapa pedagang juga menyediakan laksa ayam. Laksa biasanya disajikan dengan satu senidok penuh sambal cabai dan ditaburi ketumbar Vietnam atau kucai, yang di Malaysia biasanya disebut daun kesum.
Di Penang, laksa jenis ini biasanya disebut Mie Kari dibandingkan dengan sebutan Laksa Kari, dikarenakan perbedaan penggunaan dari Mie (mie kunig atau bihune hoon, kebalikan dari mie laksa yang berwarna putih dan tebal). Mie kari - Penang menggunakan darah babi beku, yang dianggap lezat oleh masyarakat keturunan Cina. Dua tempat yang terkenal untuk mencicipi mi kari yang lezat adalah di Lorong Seratus Tahun and Chulia Street.
Istilah "laksa kari" sering digunakan di Kuala Lumpur atau Singapura. Laksa populer di Indonesia, Singapore dan Malaysia, seperti juga laksa young tau foo, lobster laksa, bahkan juga Laksa Polos, yang hanya terdiri dari mie dan saus.
Laksa assam
- Laksa Pulau Pinang,juga dikenal sebagai assam laksa
- Laksa Johor, berasal dari negara bagian Johor
- Laksa Ipoh, berasal Ipoh, Malaysia, mirip Laksa Penang tetapi lebih asam
- Laksa Kuala Kangsar
- Laksa Perlis
- Laksa Kedah
- Laksa Kelantan
Laksa lainnya
- Laksa Serawak, berasal dari Sarawak di pulau Kalimantan.
- Laksa Bogor, berasal dari Bogor dan menggunakan oncom
- Laksa Betawi, hampir mirip dengan Laksa Bogor tapi kuah Laksa Betawi memakai udang rebon.
- Laksa Palembang, yang berbahan sama seperti burgo, pada lakso bentuknya menyerupai mie. Sama halnya dengan kuah burgo, lakso juga dimakan bersama kuah santan, hanya yang membedakan kuahnya memakai kunyit dan dicampur dengan bumbu lainnya.
(sumber : wikipedia.com)
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 02.11 0 komentar
Label: WARISAN KULINER
Rabu, 01 September 2010
Masjid Agung Banten
Bismillahirahmanirrahiim
Berbicara mengenai Banten, tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Masjid Agung Banten yang monumental itu. Berikut ini profil singkat dan gambar Masjid Agung Banten yang bersumber dari : www.bantenculturetourism.com
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 23.43 0 komentar
Label: SEJARAH BANTEN
ASAL USUL NAMA "BANTEN"
Bismillahirrahmanirrahiim
Sumber : Banten Culture dan Tourism.com
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 23.38 0 komentar
Label: SEJARAH BANTEN
Resensi Buku Sayyid Ulama Hijjaz
Syekh Nawawi Banten: The Great Scholar Ulama-ulama Indonesia
![]() |
| sumber : NU Online |
Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh kitab kuning Indonesia. Sebut misalnya; Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Syamsudin as-Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Syekh Ihsan al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz at-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri.
Bahkan, konon banyak ulama dan pakar bahasa Arab, termasuk ulama Al-Azhar, yang tidak segera percaya saat mereka tahu bahwa pengarang kitab Amtsilah at-Tashrifiyyah adalah Kiai Makshum Ali dari Jombang, Indonesia, yang dimaklumi tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Kitab Ilmu Tashrif (konjugasi) ini terkenal karena dapat menjelaskan proses bentukan kata dan tata matra (wazan) secara ringkas.
Selain Kiai Makshum Ali, juga ada Kiai Ihsan bin Dahlan Jampes dari Kediri. Dengan karya monumentalnya yang berjudul Sirajut Thalibin sebagai kitab syarah (penjelas) dari Minhajul ’Abidin-nya Al-Ghazali, mampu membuat penasaran para penggemar “etika al-Ghazali” di Eropa, karena mereka mengakui doktrin-doktrin Imam al-Ghazali yang begitu rumit namun dengan gamblang diuraikan oleh Kiai Ihsan. Bahkan ketika kitab Siraj terbit dan beredar di dalam maupun di luar negeri, datanglah utusan raja Faruq dari Mesir yang meminta Kiai Ihsan untuk mengajar di Universitas al-Azhar. Akan tetapi, beliau menolak tawaran tersebut dan lebih memilih untuk tetap tinggal di Indonesia.
Begitu pula yang terjadi dengan Syekh Imam Nawawi al-Bantani. Beliau adalah satu dari tiga ulama asal Indonesia yang diizinkan mengajar di Masjidil Haram di Makkah, dan di antara ketiganya, beliaulah yang di anugerahi gelar Sayyid Ulama Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Dan juga satu-satunya ulama Indonesia yang namanya tercantum dalam literatur-literatur Arab yang sangat masyhur, antara lain dalam kamus Al-Munjid karya Louis Ma’luf yang terkenal itu.
Nama Syekh Nawawi sangat lekat di kalangan kiai dan santri di Indonesia, karena hampir semua kiai di Jawa dan Indonesia secara umum memiliki geneologi intelektual yang sama-sama bermula darinya. Diantara muridnya yaitu; KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Kiai Mahfudz Tremas, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Kiai Kholil Bangkalan, dan masih banyak yang lainnya.
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, bahwa dikalangan ulama dan pengarang Islam dikenal dua nama Nawawi. Keduanya sama-sama ulama dan pengarang besar. Pertama adalah Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Birri bin Hasan bin Husaini Mukhyiddin an-Nawawi as-Syafi’i. Dia adalah seorang Ulama Syafi’iyyah yang lahir dan wafat di Nawa, Damsyiq. Dia dikenal sebagai Imam Nawawi dan hidup sekitar abad ke-13 Masehi. (hlm. 9).
Yang kedua adalah Abu Abd al-Mu’thi Muhammad ibn Umar ibn Arabi ibn Nawawi al-Jawi al-Bantani at-Tanari. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1230 H/1815 M. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M beliau wafat dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin, istri Nabi Muhammad SAW. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa, Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara Haul beliau.
Ayahnya bernama Kiai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far al-Shodiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.
Mengenai kiprahnya di kalangan komunitas pesantren, Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati. Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH Hasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya.
Maka dengan mengangkat kembali wacana produktifitas ulama Indonesia, buku ini menyajikan biografi singkat Syekh Nawawi. Setidaknya ada beberapa manfaat yang diharapkan sebagaimana yang diinginkan buku ini. Pertama, untuk memberikan informasi yang lebih luas mengenai Syekh Nawawi; sejarah hidup, jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam, dan karya-karyanya yang fenomenal yang sampai sekarang dijadikan rujukan beberapa pesantren di Indonesia. Kedua, untuk mengungkap secara lebih mendalam pemikiran-pemikiran dakwahnya, terutama dalam kitab Tafsir al-Munir-nya. (Hlm. 82-93)
Memperhatikan karya-karya Syekh Nawawi, dia dikenal memegang teguh dan mempertahankan traidisi keilmuan klasik, suatu tradisi keilmuan yang tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan secara evolutif dalam pembentukkan keilmuan agama Islam. Besarnya pengaruh pola pemahaman dan pemikiran Syekh Nawawi terhadap para tokoh ulama di Indonesia, dapat dikatakan ia adalah poros dari akar tradisi keilmuan pesantren dan NU. Untuk itu buku yang di tulis Samsul Munir Amin ini sepatutnyalah mendapatkan perhatian dan apresiasi serius oleh kader-kader NU sekarang yang rata-rata ansich bergelut dalam dunia politik praktis dan melupakan tradisi keagamaan pendahulunya.
Buku setebal 128 halaman ini di-frame, dikemas dengan konsep ilmiah populer karena memang sebelumnya buku ini adalah hasil skripsi penulis. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan buku ini tetap mudah dipahami oleh kaum awam sekalipun. Sebuah buku yang membahas biografi mahaguru sejati (the great scholar) ulama-ulama Indonesia.
Sumber : www.nu.or.id
Resensi Buku yang berjuddul : Sayyid Ulama Hijaz; Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani
Penulis : Samsul Munir Amin
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS Yogyakarta
Halaman : xiv + 128 halaman
Cetakan : I, Februari 2009
Peresensi : Anwar Nuris*
*Peresensi adalah Ketua Umum IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya, alumnus Pondok Pesantren Nasy-atul Muta’allimin Gapura, Sumenep
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 23.19 0 komentar
Label: PARA KEKASIH
BIOGRAFI SYEKH NAWAWI AL-BANTANI
Allahummaftahli Futuuhal ‘Arifin
Imam Muhamad Nawawi al-Bantani (Sufi dan Cendekiawan Dunia Asal Indonesia)
Beliau adalah seorang ulama besar Indonesia asal Banten pada abad ke-19, yang dikenal juga sebagai salah seorang imam Masjidil Haram Mekah. Sebagai ulama ia dikenal mempunyai waasan yang luas, pikiran-pikiran yang tajam, sikap rendah hati dan sederhana. Nama lengkapnya Abu Abdil Mu’ti Muhammad Nawawi ibnu Umar ibn ‘Arabi at-Tanari al-Bantani al-Jawi. Sehari-hari ia dipanggil Syekh Nawawi al-Bantani, ia juga popular dengan julukan Sayyidil ‘Ulama al-Hijaz.
Syekh Nawawi al-Bantani dilahirkan pada 1813 (1230 H) di Desa Tanara (Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang – Banten). Ia berasal dari keluarga muslim yang taat beragama. Ayahnya bernama Umar ibnu ‘Arabi, seorang penghulu Kecamatan di Tanara. Secara geneologi, beliau merupakan salahsatu ketutunan Maulana Hasanudin (Sultan Hasanudin) putra Sunan Gunung Jati dari Cirebon (Maulana Syarif Hidayatullah).
Syekh Nawawi al-Bantani memperoleh pendidikan awal dari sang ayah di rumah. Orang tuanya memberikan pelajaran bahasa Arab, Fikih, dan Ilmu Tafsir. Sejak kecil Syekh Nawawi al-Bantani dikenal rajin dan tidak suka berpaku tangan. Kecerdasan dan sifat kritisnya pun sudah tampak sejak masih kanak-kanak. Dengan berbekal didikan ayahnya sendiri, beliau kemudian berguru pada beberapa kiai yang berpengaruh saat itu, seperti Kiai Sahal dari Banten dan Kiai Yusuf dari Purwakarta. Pendidikan dari kedua ulam tersebut ia peroleh sebelum ia berumur 15 tahun. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, beliau sanggup menyerap berbagai cabang ilmu yang sesungguhnya lebih pantas diajarkan kepada orang dewasa. Bahkan pada usia 8 tahun ia sudah menghapal seluruh isi Al-Qur’an.
Pada usia 15 tahun ia bertekad melaksanakan ibadah haji. Ia berangkat seorang diri tanpa bekal yang cukup sebagai layaknya orang yang akan bepergian jauh. Seusai menunaikan haji, ia tertarik untuk tetap tinggal di Mekah dengan maksud menuntut ilmu. Di tanah suci itulah ia bertemu dengan Syekh Khatib Sambas, Abdul Gani Bima, Yusuf Sumbulawesi, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Syekh Ahmad Zaini Dahlan dan Syekh Abdul Hamid Dagestani. Sebagian mereka itu adalah ulama-ulama besar asal Indonesia yang bermukim di Mekah.
Selama tiga tahun, Beliau menuntut ilmu di tanah suci, yang dipelajarinya terutama ilmu ushuluddin, fikih, balaghah, dan mantiq. Di antara guru-gurunya itu ada dua yang cukup mewarnai prinsip keilmuan dan jalan pikiran Syekh Nawawi al-Bantani, yaitu Syekh Nahrawi dan Syekh Ahmad Dimyati. Kedua ulama itulah yang mula-mula membimbingnya dalam berbagai disiplin ilmu. Selain di Mekah ia juga pernah belajar di Madinah pada seorang ulama bernama Syekh Muhammad Khatib al-Hanbali.
Setelah tiga tahun menimba ilmu di Mekah dan Madinah, Syekh Nawawi al-Bantani kembali ke Indonesia, ke desa kelahirannya, Tanara. Di sana ia mulai mengajarkan ilmunya sekaligus melaksanakan dakwah. Belum berapa lama ia mengajar, namanya sudah terkenal ke mana-mana. Pengaruhnya pun semakin besar di kalangan masyakat. Kemasyhuran beliau dinilai pihak penjajah Belanda sebagai suatu hal yang membahayakan dan mengganggu stabilitas politiknya. Karena itu, Belanda melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh aktivitas Syekh Nawawi di tanah air.
Menyadari ruang geraknya semakin sempit, Syekh Nawawi merasa tidak betah tinggal di kampong halaman. Ia pun memutuskan kembali ke Mekah. Di Mekah ia kembali menemui guru-gurunya untuk memperdalam ilmu yang pernah dipelajarinya. Pada masa antara ahun 1830 dan 1860 ia habiskan waktunya untuk menuntut ilmu kepada sejumlah ulama terkemuka di Mekah.
Setelah kurang lebih 30 tahun mendalami mendalami ilmu-ilmu keagamaan dari sejumlah ulama ternama, tidak mengherankan bila ia menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama, seperti ilmu tafsir, ilmu tauhid, tasawuf, fikih, akhlak, dan bahasa Arab. Penguasaannya terhadap bidang-bidang ilmu yang disebutkan tadi terlihat jelas dalam karya-karya tulisnya yang cukup banyak. Menurut suatu sumber ia meninggalkan sebanyak 115 buah kitab yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu agama.
Karya-karyanya antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :
- Dalam cabang tafsir karyanya yang menonjol adalah kitab “Tafsir al-Munir” (Yang Memberi Sinar)
- Dalam bidang tasawuf, diantaranya kitab “Salalim al-Fudala” (Tangga bagi Orang-orang Mulia) yang merupakan syarah dari kitab “Hidayah al-Azkiya” (Petunjuk bagi Orang-orang Pintar), kitab “Misbah al-Zalam” (Pelita Kegelapan), dan kitab “ Bidayah al-Hidayah” (Permulaan Hidayah)
- Dalam bidang hadis, antara lain kitab “Tanqih al-Qaul” (Meluruskan Pendapat) yang merupakan syarah dari kitab “Lubab al-Hadis” (Intisari Hadis), karangan Imam as-Suyuthi.
- Dalam bidang tauhid, antara lain “Kitab Fathal – Majid” (Pembuka bagi Yang Mulia), syarah dari “Kitab as-Durr al-FArid fi at-Tauhid” (Mutiara yang Berharga dalam Tauhid), dan “Kitab Tijan ad-Darari”, syarah dari “Kitab fi at-Tauhid”, karya al-Bajuri.
- Dalam bidang tarikh, antara lain “kitab al-Ibriz ad-Dani” (Emas yang Dekat), “Bugyah al-Awwam” (Kebodohan Orang Awam), dan “Fath as-Samad” (Pembuka untuk Mencapai Yang Maha Memberi)
- Dalam bidang fikih, antara lain “kitab Sullam al-Munajah” (Tangga untuk Munajah), “at-Tausyih” (Pemakaian Selempang), syarah dari “kitab Fath al-Qarib al-Mujib” (Pembuka untuk Mencapai Yang Maha Dekat dan Maha Mengabulkan) karya Ibnu Qasun al-Gazi, “as-Simar al-Yani’ah” (Buah yang Matang), “al-Fath al-Mujib” (buku mengenai manasik haji).
- Dalam bidang bahasa dan kesusasteraan Arab, antara lain “kitab Fath Gafr al-Khatiyyah” (Pembuka untuk Mencapai Yang Maha Mengampuni Kesalahan) dan “Lubab al-Bayan” (Inti Penjelasan).
Keistimewaan karya-karya tulis Syekh Nawawi, terutama terletak pada kemudahan bahasanya sehingga mudah dicerna oleh pembacanya. Karya-karya tersebut banyak digunakan di Timur Tengah, termasuk di Mesir. Dilihat dari karyanya yang demikian banyak, pantaslah ia disebut sebagai “Bapak Kitab Kuning” bagi Indonesia.
Sebagai pendidik, beliau mengawali karirnya dengan membuka pengajian di serambi rumahnya di perkampungan Syi’ib Ali, dekat Majidil Haram, Mekah. Mula-mula muridnya hanya beberapa orang, tetapi dalam waktu singkat ia segera menjadi populer dan murid-muridnya pun berdatangan dari berbagai belahan dunia, terutama setelah ia diangkat menjadi imam Masjidil Haram. Sejak itulah ia disapa dengan gelaran Syekh Nawawi.
Diantara murid-muridnya adalah KH Kholil Bangkalan-Madura, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng –Jombang, KH Asnawi dari Kudus-Jawa Tengah, KH Asnawi dari Caringin – Labuan, KH TB. Bakri dari Sempur-Purwakarta, dan KH Arsyad Tawil-Banten. Nama-nama murid Syekh Nawawi yang disebutkan pada umumnya dikenal sebagai pendiri dari beberapa pesantren tertua dan terkenal di Indonesia. Salah seorang muridnya, KH Dawud yang berasal dari Perak-Malaysia, juga menjadi ulama kenamaan di tempat asalnya.
Sebagai ulama, Syekh Nawawi amat besar perhatiannya terhadap dunia pendidikan dan itulah yang ia tekankan pada murid-muridnya, yaitu agar mengembangkan dunia pendidikan. Menurutnya, ilmu pengetahuan mampu menyebarluaskan keutamaan. Melalui pendidikan masyarakat akan sanggup mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri mereka serta dapat membersihkan jiwa dari kebodohan dan sikap bertaklid buta. Pokok-pokok pandangannnya melalui keilmuan meliputi usul asy-syari’ah, ijtihad dan perilaku sosial. Menurutnya, substansi dari usul asy-syari’ah terdiri dari empat hal, yaitu Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ dan Qiyas.
Dalam bidang dakwah Syekh Nawawi memiliki konsep yang cukup artikulatif, yaitu membagi tiga kelompok manusia bagi sasaran dakwahnya.
Pertama : Kelompok manusia yang memiliki akal sehat, mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, cerdas, jujur dalam berfikir, dan sanggup melakukan kajian berbagai masalah keislaman. Terhadap kelompok ini beliau menyeru dengan jalan hikmah.
Kedua : Kelompok manusia yang memiliki pandangan dan pengalaman, tetapi pola pikirnya kacau dan tidak sistematis. Terhadap kelompok ini ia pakai dakwah dalam bentuk pemberian nasihat-nasihat yang baik dan penjelasannya yang mudahj dipahami.
Ketiga : Kelompok manusia yang bersikap apriori dan suka berdebat tanpa landasan pemikiran yang jelas. Terhadap kelompok terakhir ini ia pun menyampaikan dakwah dengan cara mendebat pendapat-pendapat mereka, tetapi dengan cara yang baik.
Tentang tarekat, dalam bukunya “Bahjatul Wasail” Beliau dengan tegas mengatakan “Syafi’i adalah madzhabku dan Qadiriyah adalah tarekatku” Tepai, ia tidak menganjurkan kepada murid-muridnya untuk masuk tarekat tertentu, dan sebaliknya juga tidak melarang mereka masuk salah satu tarekat yang ada.
------------
Sumber : Seri Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah, karya Saiful Hadi, Ciptamedia Binanusa (Hal 376-381)
Diposting oleh Kisah Tak Berujung di 22.52 0 komentar
Label: PARA KEKASIH


